Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesi 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesi 2. Tampilkan semua postingan
0

Penalaran dan Pergertian Karya Ilmiah

Posted by Jhonatan Oktavianus on 20.39 in ,
Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli.

Penulisan ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Penulisan ilmiah juga merupakan uraian atau laporan tentang kegiatan, temuan atau informasi yang berasal dari data primer dan / atau sekunder, serta disajikan untuk tujuan dan sasaran tertentu. Informasi yang berasal dari data primer yaitu didapatkan dan dikumpulkan langsung dan belum diolah dari sumbernya seperti tes, kuisioner, wawancara, pengamatan / observasi. Informasi tersebut dapat juga berasal dari data sekunder yaitu telah dikumpulkan dan diolah oleh orang lain, seperti melalui dokumen (laporan), hasil penalitian, jurnal, majalah maupun buku.
Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh pengamatan, peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Atas dasar itu, sebuah karya tulis ilmiah harus memenuhi tiga syarat:
1. Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
2. Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah
3. Sosok tampilannya sesuai da telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.

Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
1. Argumentasi teoritik yang benar, sahih dan relevan
2. Dukungan fakta empirik
3. Analisis kajia yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.

Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek/matra. Kelima aspek tersebut
adalah:

a. Aspek keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antarbagian yang satu dengan yang lain dalam
suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu
sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan
masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus
berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan
harus berkaitan juga dengan kesimpulan.
b. Aspek urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang sesuatu yang harus didahulukan/ditampilkan
kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu
karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu.Pada bagian Pendahuluan,
dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan
kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan
dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas
pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah

c. Aspek argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta,
pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir
sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah
tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat/temuan-temuan dalam
analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

d. Aspek teknik penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten.
Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat
baku dan universal.

e. Aspek bahasa
Yaitu bagaimana penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku?
Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan
bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra
lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.

Beberapa ciri bahasa ilmiah: kalimat pasif, sebisa mungkin menghindari kata ganti diri
(saya, kami, kita), susunan kalimat efektif/hindari kalimat-kalimat dengan klausa-klausa
yang panjang.

SUMBER :


0

Penalaran dan Pergertian Deduktif

Posted by Jhonatan Oktavianus on 02.34 in ,
Pergertian Penalaran

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan.Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika.Logika dapat didiefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum.Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif.Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi1) premsi mayor dan2) premis minor.Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersbut. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.Dari contoh sebelumnya misalkan kita menyusun silogisme sebagai berikut.v Semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahanka hidupnya (Premis mayor)v Joko adalah seorang mahluk hidup (Premis minor)v Jadi, Joko perlu makan untuk mempertahakan hidupnya (Kesimpulan)Kesimpulan yang diambil bahwa Joko juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya.Pertanyaan apakah kesimpulan ini benar harus dikembalikan kepada kebenaran premis-premis yang mendahuluinya. Apabila kedua premis yang mendukungnya benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. Mungkin saja kesimpulannya itu salah, meskipun kedua kedua premisnya benar, sekiranya cara penarikkan kesimpulannya tidak sah.Dengan demikian maka ketepatan penarkkan kesimpulan tergantung dari tiga hal yaitu:1) kebenaran premis mayor,2) kebenaran premis minor, dan3) keabsahan penarikan kesimpulan.Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratannya tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.

Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif

Kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan.Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :The Felt Need,yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
sumber : http://irabieber.wordpress.com/2011/10/26/penalaran-deduktif-dan-induktif



0

Penalaran dan Pergertian Induktif

Posted by Jhonatan Oktavianus on 02.30 in ,
Pergertian Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan.Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika.Logika dapat didiefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum.Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.
Penalaran Induktif
Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Bentuk-bentuk Penalaran Induktif :
a) Generalisasi :
Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
b) Analogi :
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh analogi :
Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
c) Hubungan kausal :
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Macam hubungan kausal :
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.
Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Misalkan kita mempunyai fakta bahwa katak makan untuk mempertahankan hidupnya, ikan , sapi, dan kambing juga makan untuk mempertahankan hidupnya, maka dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa semua hewan makan untuk mempertahankan hidupnya.
Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya karena mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis, maskudnya melalui reduksi terhadap berbagai corak dan sekumpulan fakta yang ada dalam kehidupan yang beraneka ragam ini dapat dipersingkat dan diungkapkan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah sekedar koleksi dari berbagai fakta melainkan esensi dan juga fakta-fakta tersebut.
Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dari objek tertentu melainkan menekankan kepada strukstur dasar yang menyangga wujud fakta. Sebagai contoh, bagaimanapun lengkapnya dan cermatnya sebuah pernyataan dibuat untuk mengungkapkan betapa nikmatnya hubungan intim dirasakan seorang wanita atas keinginan suka sama suka dan perihnya hubungan intim karena pemerkosaan, tidak mungkin dapat merreproduksikan hal itu.
Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang bersifat kategoris bahwa hubungan intim atas dorongan suka sama suka indah, nikmat, dan hubungan intim karena pemerkosaan sangatlah menyakitkan. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoritis.


Contoh generalisasi :
v Jika dipanaskan, besi memuai.
v Jika ada udara, manusia akan hidup.
1) Sebab- akibat.
2) Akibat – Sebab.
3) Akibat – Akibat.
Induksi merupkan cara berpikir dengan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih umum lagi. Misalkan dari contoh sebelumnya bahwa kesimpulan semua hewan perlu makan untuk mempertahankan hidupnya, kemudian dari kenyataan bahwa manusia juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya, maka dapat dibuat lagi kesmpulan bahwa semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidupnya. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang main lama makin bersifat fundamental.
sumber : http://irabieber.wordpress.com/2011/10/26/penalaran-deduktif-dan-induktif

0

Analisis dan Pengaruh Tata Tulis Ilmiah

Posted by Jhonatan Oktavianus on 19.15 in ,
Analisis 

Dalam linguistikanalisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata analisa atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan. Namun, dalam perkembangannya, penggunaan kata analisa atau analisis mendapat sorotan dari kalangan akademisis, terutama kalangan ahli bahasa. Penggunaan yang seharusnya adalah kata analisis. hal ini dikarenakan kataanalisis merupakan kata serapan dari bahasa asing (inggris) yaitu analisys. Dari akhiran -isys bila diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi -isis.


# KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan

# ANNE GREGORY
Analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan

# DWI PRASTOWO DARMINTO & RIFKA JULIANTY
Analisis merupakan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan

# SYAHRUL & MOHAMMAD AFDI NIZAR
Analisis berarti melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos atau ayat-ayat yang berkaitan dengan akuntansi dan alasan-alasan yang memungkinkan tentang perbedaan yang muncul

# WIRADI
Analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditaksir maknanya.

# KAMUS AKUNTANSI
Analisis adalah melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos atau ayat-ayat yang berkaitan dengan akuntansi dan alasan-alasan yang memungkinkan tentang perbedaan yang muncul

# KOMARUDDIN
Analisis adalah kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen sehingga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama lain dan fungsi masing-masing dalam satu keseluruhan yang terpadu

Tata tulis karya ilmiah

Pendahuluan
Bab ini berisi ketentuan tentang isi laporan, penyajian laporan, dan tatatulis secara umum. Panduan yang diberikan dalam bab ini bersifat konvensional,mengacu pada Pedoman Penulisan Laporan Penelitian yang dikeluarkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Tujuan
1. Mahasiswa memahami bagan tulisan ilmiah, panduan umum, dan tatatulissecara umum.
2. Mahasiswa dapat membuat laporan penelitian dengan aturan tatatulisyang berlaku umum.

1.Bagan Tulisan Ilmiah
Bagan tulisan ilmiah secara umum minimal terdiri dari tiga bab (babpendahuluan, bab isi, dan bab penutup) seperti contoh bagan di bawah ini.Akan tetapi, dapat dikembangkan menjadi beberapa bab lagi tergantung padakedalaman materi yang sedang dibahas.

Bagian Pendahuluan (pelengkap awal):
halaman judul
kata pengantar
daftar isi (daftar tabel)
abstrak 

Bagian Isi:
BAB  1  PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
1.2Rumusan Masalah
1.3Tujuan Penelitian
1.4Ruang Lingkup Masalah
1.5Anggapan Dasar, Hipotesis
1.6Teori
1.7Pengumpulan Data

BAB  2  PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Data
2.2 Analisis Data
2.3 Interpretasi Data

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Bagian Penutup (pelengkap akhir):
Daftar Pustaka
(Lampiran)




Petunjuk Umum Penulisan Karya Tulis Ilmiah
                                                  
a.Judul
            Judul harus memberikan gambaran tentang isi tulisan yang disajikan. Olehkarena itu, judul harus mencakup masalah pokok serta hal-hal pentingyang ingin ditonjolkan. Meskipun demikian, judul harus tetap dirumuskandengan singkat dan jelas. Apabila judul terlalu panjang, dapat dibagi dua:bagian pertama menunjuk pokok persoalan dan bagian kedua berupa anak  judul yang menerangkan pokok persoalan. Kata-kata inti harus dipilih,sehingga keseluruhan isi terwakili.

b.Halaman judul
Pada halaman ini dituliskan judul penelitian dengan lengkap, sehinggapembaca dapat mengetahui garis besar isi laporannya. Di bawah juduldapat dicantumkan: sifat dan jenis laporan, nama penyusun, nama lembaga,kota dan tahun penyusunan laporan.

c.Kata Pengantar 
Kata pengantar berisi gambaran umum pelaksanaan tugas dan hasil yangdicapai. Pada kata pengantar diuraikan dengan singkat alasan dan tujuanpenyusunan laporan penelitian, ucapan terima kasih kepada pembimbingdan pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian (dapat dimasukkandalam bagian ucapan terima kasih terpisah dari kata pengantar) tempat,tanggal, bulan, tahun penyusunan laporan.

d.Daftar isi
Halaman ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruhtentang isi pokok laporan. Oleh karena itu, pada daftar isi dicantumkandengan jelas urutan bab dan subbab serta seluruh lampiran yang adadengan nomor halaman masing-masing dimulai dari kata pengantar sampaidengan lampiran-lampiran.

e.Daftar Lampiran
Apabila dalam laporan diperlukan lampiran tabel, gambar, dan keteranganlain yang menunjang isi laporan, semua lampiran tersebut harusdicantumkan dalam daftar lampiran. Dalam hal ini nomor lampiran danhalamannya harus dicantumkan dengan teratur dan jelas

f.Halaman abstrak 
Abstrak merupakan miniatur tulisan secara keseluruhan. Halaman iniberisi tujuan, metode, data, dan simpulan dari penelitian secara ringkasdan padat, diketik dengan spasi rapat (
single) maksimal tiga halaman. Padamakalah halaman abstrak ini tidak diperlukan.

g.Latar belakang antara lain berisi deskripsi tentang hal-hal berikut :
1)Fenomena/informasi yang berhubungan dengan penelitian.
2)Ulasan tentang manfaat penelitian.
3)Hasil telaah pustaka yang relevan dengan penelitian.
4)Kedudukan penelitian dikaitkan dengan ilmu pengetahuan ataudisiplin yang lain di dalam jenis/ kelompoknya maupunkelompok lain.

h.Masalah
Rumusan masalah harus jelas, disarankan dalam bentuk kalimat tanya/bentuk pertanyaan.



i.Tujuan penelitian meliputi antara lain hal-hal di bawah ini :
1)  usaha pokok yang akan dilakukan
2) Tujuan (umum dan khusus; tujuan ilmiah dan praktis) yang ingindicapai.
3) Ungkapan tentang rencana hasil yang akan diperoleh.
4) Cara mencapai tujuan penelitian.

j.ruang lingkup penelitian (batasan masalah)
1) Penjelasan istilah, terutama yang terdapat pada judul dan jugaterhadap istilah-istilah teknis dalam penelitian.
2) Pembatasan masalah (baik luasnya maupun dalamnya ilmu sertawilayah penelitian).
3) Penentuan ―tempat berpijak‖/ sudut pandang meninjau masalah.
 4) Penjelasan singkat tentang penjabaran masalah dan carapemecahannya.

k.anggapan dasar, hipotesis, teori, dan dalil :
1) Anggapan dasar harus tepat (biasanya berisi kebenaran umum yangtidak perlu   dibuktikan lagi) yang berkaitan dengan rencana penelitianyang bersangkutan.
2) Anggapan dasar harus sesuai dengan lapangan ilmu yang diteliti.
3) Hipotesis supaya disusun dalam bentuk pernyataan positif dan dapatberfungsi sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
4) Hipotesis harus jelas dan sekaligus menggambarkan arah penelitian.
5) Hipotesis dijabarkan dari anggapan dasar.
6) Untuk memecahkan masalah kadang-kadang diperlukan teori danbagaimana langkah pokok dalam rangka penggunaannya.
7) Alasan menggunakan teori atau pendekatan.
8) Urgensi penggunaan dalil dalam penelitian dan apakah semuanya dalilbaru ataukah campuran      dengan yang lama dari hasil penelitian oranglain.
9) Kesejalanan antara anggapan dasar, hipotesis, teori, dalil, dengantujuan penelitian
10) Cara pembuktian hipotesis dikaitkan dengan desain penelitian(pembuktian statistik   atau bukan).

l.Cakupan sumber data :
1) Kriteria penentuan dan jumlah sumber data atau data yang tepat bagikebutuhan                                      penelitian.
2) Populasi dan sampel penelitian.
3) Kriteria mutu data yang diolah.
4) Keserasian data dengan tujuan penelitian serta cakupannya.

m.Cakupan pengumpulan data :
1)Metode dan teknik yang tepat yang digunakan.
2)Alasan penggunaannya.
3)Kriteria dan alat pengumpul data (instrumen) yang tepat, sahih danterpercaya.
4)Kemungkinan adanya pengaruh variabel lain sehingga mempengaruhimutu data dan penafsirannya.
5)Variabel yang dibutuhkan, diolah/ dianalisis.





n.Cakupan pengolahan data
1) Cara menginventarisasi data.
2) Cara mengorganisasi dan menyeleksi data.
3) Cara mengkode/ menabulasi data
4) Penggunaan teknik pengolahan dan analisis data (bagi penelitian yangbersifat kuantitatif dapat menggunakan teknik statistik).
5) Tahap-tahap penelaahan dan analisis data (jadwal, deskripsi, analisis,dan penafsiran data).
6) Konsistensi penerapan teori
7) Ketepatan analisis dan penafsiran data.
8) Ketepatan pembuktian hipotesis (jika ada).
9) Ketepatan menarik simpulan, saran, atau pun rekomendasi.


o.Bab Penutup
Bagian ini berisi simpulan dari tiap satuan dan keseluruhan analisis.Simpulan ini bukanlah rangkuman atau ikhtisar. Selain kesimpulan, dapat juga dimasukkan saran. Saran diberikan kepada pembaca pada umumnya,pihak-pihak terkait yang berkepentingan dengan topik penelitian ataupeneliti berikutnya untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Salahkaprah apabila saran diberikan kepada diri penulis/peneliti sendiri.

p.Daftar Pustaka
Bagian ini berisi daftar semua pustaka yang dijadikan acuan, pegangan,atau landasan penelitian dan penyusunan laporan. Pustaka yang tidak relevan dengan penelitian tidak boleh tercantum dalam daftar ini.

q.Lampiran
Sebagai pelengkap, laporan harus menyertakan lampiran yang memuattabel, peta, instrumen penelitian, transkripsi (rekaman dalam kaset),pegangan kerja, rancangan penelitian, riwayat hidup peneliti, dan lain-lain(yang tidak dimasukkan dalam teks) yang dianggap perlu.


sumber :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis
2. http://mediainformasill.blogspot.com/2012/04/pengertian-definisi-analisis.html
3. http://lindrabua.blogspot.com/

Copyright © 2009 Jhonatan Oktavianus All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.